• SMKS SUPARMAN WONOMULYO
  • Sekolah Teknik Pertama di Polewali Mandar, Sejak 1967
  • smkssuparmanwonomulyo@gmail.com
  • 085311514675
  • Pencarian

MEMBACA TIDAK PERNAH DIMULAI DARI PERINTAH

Seperti biasa, saya berangkat dari rumah ke sekolah. Pagi yang cerah memberi semangat yang luar biasa. Masuk ke kelas dengan keadaan siap untuk mengajar. Kelas ini 90% laki-laki karena kelas Program Keahlian Teknik Otomotif, mata pelajaran Bahasa Indonesia dimulai seperti biasanya. Saya mulai membangun kebiasaan dengan berpedoman pada buku Atomic Habit, bahwa proses membangun kebiasaan dimulai dari petunjuk, gairah, tanggapan dan ganjaran.
Petunjuk sebagai langkah awal saya mulai dengan memberikan pertanyaan kepada murid saya, pertanyaan yang cukup berat tetapi jawabannya ada di buku yang sudah saya siapkan di rak-rak depan kelas. Saya berharap mereka akan bergerak, mengambil buku, lalu mulai membaca. Saya membayangkan suasana kelas akan perlahan sunyi, masing-masing murid tenggelam dalam halaman yang mereka buka.

Namun yang terjadi tidak seperti itu.
Beberapa murid saling menoleh.
Sebagian tetap duduk di tempatnya.

Ada yang berdiri, tetapi hanya untuk bertanya, “Pak, bukunya yang mana?” lalu kembali duduk tanpa membawa apa pun.
Rak buku ada di depan mata mereka, tetapi seolah tidak terlihat. Buku-buku itu hadir secara fisik, namun belum hadir sebagai sesuatu yang mereka anggap perlu. Saya menunggu beberapa menit, berharap akan ada inisiatif. Waktu berjalan, kelas tetap riuh kecil, dan tidak satu pun murid benar-benar mulai membaca. Di titik itu saya sadar, perintah yang saya berikan hanyalah suara. Ia tidak cukup kuat untuk menggerakkan kebiasaan. Murid-murid tidak menolak membaca, tetapi mereka juga tidak merasa perlu melakukannya. Buku belum menjadi jawaban, hanya menjadi benda yang asing di ruang kelas.

Saya lalu mendekati rak, mengambil satu buku, dan membukanya. Saya membaca beberapa baris dengan suara pelan, bukan untuk ditiru, tetapi sekadar untuk mengisi keheningan. Beberapa murid mulai memperhatikan. Ada yang mendekat, ada yang sekadar melirik. Tidak semuanya mengikuti, tetapi suasana berubah. Kelas menjadi sedikit lebih tenang. Saat itulah saya mulai memahami bahwa membaca tidak pernah benar-benar dimulai dari perintah. Ia dimulai dari kehadiran. Dari contoh kecil yang terlihat. Dari guru yang tidak hanya menyuruh, tetapi ikut membuka halaman. Hari itu, saya tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan. Tetapi saya mendapatkan sesuatu yang lain: kesadaran bahwa kebiasaan membaca tidak bisa lahir dari instruksi sekali waktu. Ia butuh dihadirkan berulang-ulang, dengan cara yang lebih rendah hati. Bab ini tidak menawarkan metode. Ia hanya mencatat satu kegagalan kecil di kelas otomotif, yang mengajarkan saya bahwa sebelum murid diminta membaca, guru terlebih dahulu harus menunjukkan bahwa membaca memang layak diberi waktu.

Setelah petunjuk saya hadirkan, saya mulai menyadari bahwa petunjuk saja tidak cukup. Buku sudah ada, pertanyaan sudah saya ajukan, bahkan contoh sudah saya perlihatkan. Namun tetap saja, sebagian besar murid belum bergerak. Di titik itu saya memahami satu hal lain: kebiasaan tidak bergerak hanya karena tahu harus melakukan apa, tetapi karena ada gairah yang membuatnya ingin dilakukan. Gairah itu tidak saya temukan dengan mengatakan bahwa membaca itu penting. Kalimat semacam itu terlalu jauh dari dunia mereka. Maka saya mengubah cara mendekat. Saya ceritakan secara singkat mengapa saya tertarik pada isi buku yang saya pegang, bagian mana yang membuat saya berhenti sejenak ketika membacanya, dan mengapa jawaban dari pertanyaan tadi ada di halaman tertentu. Bukan ceramah, hanya cerita kecil. Perlahan, rasa ingin tahu mulai muncul, meski belum merata. Beberapa murid akhirnya berdiri dan mengambil buku. Tidak banyak. Dua atau tiga orang. Tetapi bagi saya, itu sudah cukup sebagai tanda bahwa gairah tidak bisa dipaksakan, ia hanya bisa dipantik. Yang lain masih duduk, masih menunggu, dan itu tidak saya larang. Saya belajar untuk tidak terburu-buru.

Ketika murid mulai membuka buku, muncullah tanggapan. Ada yang membaca dengan sungguh-sungguh, ada yang hanya membuka halaman dan melihat-lihat. Saya tidak langsung menegur. Saya membiarkan mereka merespons dengan caranya masing-masing. Saya menyadari bahwa membaca, bagi mereka, masih merupakan wilayah asing. Tanggapan yang setengah-setengah pun tetap saya anggap sebagai awal. Saya lalu meminta satu murid untuk menceritakan apa yang ia temukan, bukan menjawab pertanyaan awal, tetapi sekadar menyebutkan satu kalimat yang ia ingat. Tidak ada koreksi. Tidak ada penilaian benar atau salah. Hanya mendengar. Kelas kembali tenang, bukan karena diperintah, tetapi karena mereka mulai terlibat. Di akhir pelajaran, saya tidak memberi tugas rangkuman. Saya tidak meminta laporan bacaan.

Ganjaran hari itu bukan nilai, melainkan pengakuan sederhana. Saya mengatakan bahwa saya senang melihat ada yang berani membuka buku, meski belum selesai membaca. Saya memberi waktu dua menit tambahan hanya untuk membaca bebas sebelum bel berbunyi. Saat murid keluar kelas, saya tidak tahu apakah kebiasaan membaca sudah terbentuk. Kemungkinan besar belum. Tetapi saya tahu satu hal: hari itu membaca tidak berakhir sebagai beban. Ia hadir sebentar, tanpa paksaan, tanpa hukuman, dan tanpa tuntutan hasil. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa petunjuk membuka jalan, gairah menyalakan langkah, tanggapan memberi arah, dan ganjaran menjaga agar langkah itu ingin diulang. Jika satu saja dipaksakan, kebiasaan akan berhenti di tengah jalan. Dan di kelas saya, pelan-pelan, saya mulai memilih untuk merawat proses itu, bukan menuntut hasilnya.

 

Penulis, Supriadi

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Meluruskan Mitos "Anti-Tinggal Kelas": Menilik Aturan Kenaikan Kelas Berdasarkan Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022

Di tengah dinamisnya perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia, sering kali muncul kesalahpahaman di kalangan pendidik maupun masyarakat luas mengenai kebijakan kenaikan kelas. Sal

24/05/2026 17:12 - Oleh Administrator - Dilihat 26 kali